Bergabunglah bersama kami, wahai seluruh mahasiswa putera dan puteri Islam di DKI Jakarta. Dengan adanya form pendaftaran secara online, kini kran rekrutmen dibuka selebar-lebarnya. Anda bisa mengakses berita dan menjadi anggota Gema Pembebasan kapanpun dan dimanapun tanpa susah payah. Cukup dengan mengisi form pendaftaran di bawah ini, kemudian tekan submit dan biodata Anda akan langsung masuk ke bank data kami. Anda akan kami hubungi selanjutnya. Semuanya gratis!
Mari bersatu, bergerak, menjadi pejuang "The Rising Ottoman Empire" di dunia. Majulah prajurit-prajurit tangguh! Bergeraklah wahai mesin-mesin politik Islam!
Gema Pembebasan DKI Jakarta berbudi luhur, berfikir tajam dan berkarakter politik kuat dalam dunia gerakan dakwah ekstra kampus.

Form Pendaftaran Anggota Gema Pembebasan

     
   




 
   
     

Yahoo! News

Harian Berita Sore

Syariah

Showing posts with label Israel. Show all posts
Showing posts with label Israel. Show all posts

Friday, August 3, 2007

Yahudi Ortodoks Kecam Zionis-Israel

Kamis, 2 Agu 07 13:26 WIB


Kelompok Yahudi Neturei Karta yang berpusat di AS selama ini dikenal sebagai duri dalam daging bagi gerakan Zionisme Internasional. Walau sama-sama berdarah Yahudi, namun orientasi perjuangan antara Neturei Karta dengan Zionis-Israel amat berbeda. Jika Zionis-Israel mengagungkan dan menyucikan Talmud, maka kelompok Yahudi Ortodoks menuding bahwa Talmud adalah kitab iblis yang telah ‘mencemari kesucian’ Taurat yang diturunkan Tuhan kepada Musa.
Secara berkala, Kelompok Yahudi Neturei Karta melakukan aksi unjuk rasa di seluruh dunia, terutama di Yerusalem, Inggris, dan AS, dan mensosialisasikan bahwa kaum Yahudi telah ditakdirkan Tuhan untuk diaspora dan tidak memiliki negara. “Kami tidak setuju dengan pembentukan negara Israel. Kaum Zionis telah memperkosa Yudaisme dan menungganginya untuk ambisi politik. Yudaisme tidak mengenal Talmud dan negara Israel!” tegas Rabi Yisroil Dovid Weiss, Juru Bicara Neturei Karta AS.
Pada 24 Juli lalu, kelompok ini lagi-lagi menggelar aksi unjuk rasa. Kali ini bertepatan dengan hari kesembilan bulan Av—yang dianggap sebagai hari terkelam dalam perjalanan bangsa Yahudi di mana orang-orang Yahudi meyakini ribuan tahun silam Kuil Sulaiman telah dihancurkan oleh mush-musuh Tuhan. Ribuan kaum Yahudi Ortodoks menggelar aksi di depan Konsulat Israel di New York AS.
Juru Bicara Neturei Karta lagi-lagi dengan lantang menyerukan agar kaum Yahudi AS khususnya dan Yahudi seluruh dunia umumnya tidak lagi mendukung keberadaan negara Zionis-Israel. “Hapuskan Israel dari muka bumi!” demikian teriak mereka. Neturei Karta juga membuat situs yang memuat seluruh aksi-aksi mereka. Silakan lihat di http://www.nkusa.%20org/.
Patut diketahui, ketika Presiden Iran dalam satu acara di Teheran menyampaikan pidato dan dengan lantang mengatakan agar dunia menghapus Israel dari peta bumi, maka kelompok Neturei Karta dengan respon yang sangat cepat mengamininya dan bergandengan tangan dengan seluruh aktivis kemanusiaan dunia untuk bersama-sama berjuang menghilangkan eksistensi negara Israel dari muka bumi sampai hari akhir.
Logikanya adalah, jika orang-orang Yahudi Ortodoks saja menyadari bahwa keberadaan negara Zionis-Israel adalah tidak sah dan ideologi Zionisme adalah ideologi iblis, maka alangkah lucunya jika ada orang yang sama sekali bukan berdarah Yahudi tapi begitu mati-matian membela Zionis-Israel. Dengan demikian, mereka sesungguhnya telah memperlihatkan kebodohan dan kenaifan mereka sendiri. Kita tentu tidak demikian. (Rizki)

Sunday, July 8, 2007

Israel Bangun Miniatur Kota dan Masjid, Jelang Latihan Militer Gabungan dengan AS



Sabtu, 7 Jul 07 20:40 WIB

Angkatan perang Israel dan pasukan AS memulai latihan bersama dengan simulasi peperangan dalam kampung dan kota Arab. Mereka bahkan berlatih dengan skenario pengepungan masjid dan rumah-rumah Arab.

Inilah latihan militer pertama kali yang dilakukan kedua negara di Shahra Naqeb, Israel, dengan subsidi dana dari AS sebesar 45 juta dolar. Liputan latihan perang ini diulas dalam harian Marine Corps Times.

Menurut MCT, untuk latihan militer gabungan itu, Israel telah membuat miniatur perkampungan dan kota sebagai ajang latihan serangan. Kota yang mereka namakan, “Baladiya City” itu dibangun dengan dana penuh dari bantuan militer AS yang diberikan kepada Israel.

Luas area kota tersebut sekitar 7, 3 mil meter persegi, dengan konten 1.100 tempat yang dirancang mirip dengan kota asli Arab, seperti Ghaza, Libanon, Tepi Barat dan Suriah.

Oze Moskovic, salah satu komandan milier di "Baladiya City" mengatakan pada MCT, “Kota ini digunakan untuk menyambut pasukan marinir AS, untuk latihan mereka sebelum dikirim ke Irak.”

Ia menambahkan, “Semua ini terus kami kembangkan dengan kerjasama AS. Kami berencana menjadikan lokasi ini sebagai pusat pengenalan lapangan yang bisa digunakan untuk rekan-rekan kami di AS dan yang lainnya.

” Lokasi latihan tempur ini kurang lebih 9 mil sisi Timur kota Rafah, Selatan Ghaza. Dan karena itu pula, situasinya tidak jauh berbeda dengan wilayah padang pasir yang ada di Palestina.

Mascovic bahkan dengan bangga mengatakan, “Kami mempunyai sarana dan bahan yang cukup untuk membuat lokasi ini menjadi mirip dengan aslinya sebagai ajang latihan perang. Cukup sediakan pada saya sekitar 70-80 orang tukang selama satu bulan. Saya bisa membuat perkotaan mirip dengan Libanon. Tapi tentu saja itu tidak seratus persen sesuai dengan yang asli, meskipun sangat baik digunakan sebagai latihan menghadapi medan yang dijadikan sasaran. ”

Ia bahkan menegaskan, “Bangunan yang mirip masjid adalah masjid. Para tukang akan membangunnya sesuai bangunan masjid di Arab. Kami memerlukan hal ini agar sesuai dengan arena perang yang dituju di lokasi mereka. ” (na-str/iol)

Thursday, June 14, 2007

Soal Timur Tengah, PBB Lebih Berpihak Pada AS dan Israel

Alvaro De Soto, mantan utusan khusus PBB untuk Timur Tengah menilai PBB gagal menerapkan kebijakan-kebijakannya di Timur Tengah. Kebijakan-kebijakan PBB menurut De Soto, hanya terfokus pada kepentingan AS dan Israel.
Ia juga menyarankan agar PBB menarik diri dari Tim Kuartet yang selama ini menjadi mediator konflik Palestina-Israel.
De Soto menilai tim kuartet yang terdiri dari PBB, Uni Eropa, AS dan Rusia tidak lebih hanya merupakan "sekelompok teman AS." Ia juga mengatakan bahwa Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon harus "secara serius mempertimbangkan" masalah keanggotaan di PBB.
Hal tersebut terungkap dalam dokumen rahasia setebal 53 halaman. Surat kabar The Guardian berhasil mendapatkan bocoran dokumen tersebut, dan artikelnya dimuat di edisi hari Rabu (13/6).
Isi dokumen itu antara lain juga mengkritik sanksi ekonomi yang diberlakukan pada pemerintahan Hamas setelah memenangkan pemilu di Palestina tahun 2006 kemarin, karena sanksi itu telah menimbulkan "konsekuensi yang menghancurkan" bagi rakyat Palestina.
"Langkah-langkah yang diambil oleh komunitas internasional, yang menganggap bahwa hal itu akan memulihkan eksistensi Palestina dan bisa hidup damai berdampingan dengan Israel, pada kenyataannya berdampak sebaliknya, " tulis De Soto dalam laporan tertanggal 5 Mei 2007 itu.
Di sisi lain, De Soto mengecam Hamas yang dalam piagamnya mencantumkan penghancuran terhadap Israel. Ia juga mengecam Presiden Palestina Mahmud Abbas, yang dinilainya sangat lemah dan kepemimpinannya tidak efektif.
Dari sisi Israel, De Soto menilai kebijakan-kebijakan negara Zionis itu sengaja dirancang untuk memicu reaksi dari kelompok-kelompok pejuang Palestina. Kondisi ini, katanya, membuyarkan tujuan untuk mewujudkan konsep dua negara Israel-Palestina.
Dalam laporan yang disampaikan De Soto bersamaan dengan pengunduran dirinya sebagai utusan khusus PBB untuk Timur Tengah bulan Mei kemarin, kebanyakan berisi kritikannya terhadap PBB. Ia menilai PBB lebih mementingkan hubungan baik dengan AS dan cenderung lebih meningkatkan hubungannya dengan Israel.
Ia mengatakan, PBB tidak terus terang mengatakan pada Israel bahwa PBB sudah gagal dalam mengupayakan proses perdamaian di Timur Tengah.
Setelah mundur sebagai utusan khusus PBB, posisi De Soto akan digantikan oleh Michael Williams asal Inggris. De Soto mengundurkan diri setelah dua tahun menjabat sebagai utusan khusus PBB, dan mengakhiri 25 tahun karirnya di PBB. (ln/aljz)